Kisah Nabi Hud dan Orang-Orang Kaya Sombong

  • Bagikan
Kisah Nabi Hud as. ©2017 Merdeka.com

NEWS BANDA ACEH – Nabi Hud as adalah nabi keempat yang diutus Allah menjadi salah satu panutan bagi umat manusia untuk terus berjalan di jalan kebenaran menuju Sang Khalik.

Dia adalah putra dari Abdullah bin Ribah bin Syam bin Nuh. Beliau merupakan salah satu keturunan suku ‘Aad. Letak geografis suku ‘Aad berada di uatra Hadramaut antara Yaman dan Oman. Nabi Hud hidup sekitar 2320-2450 SM.

Tinggal di tengah-tengah Kaum ‘Aad, membuat sebagian orang berbahagia. Pasalnya, Allah telah memberikan segala bentuk kekayaan alam yang melimpah. Mereka bertempat tinggal di bangunan yang terbuat dari gunung pasir, memiliki kebun-kebun yang luas dan hasil bumi yang berlimbah. Selain itu, Allah SWT juga memakmurkan alam daerah mereka yang indah dengan disertai taman-taman dan sungai-sungai yang mengalir indah.

Suku ‘Aad merupakan suku tertua sesudah Nabi Nuh. Suku ‘Aad ini tidak mengenal Allah SWT Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama Shamud dan Alhattar dan disembah sebagai Tuhan mereka. Menurut kepercayaan patung tersebut dapat memberikan kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah.

Dan… Di sinilah cerita Nabi Hud as dimulai.

Ajakan bersyukur dan menyembah Allah SWT

Nabi Hud as yang kala itu mendapat perintah untuk mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah SWt tidak berjalan mulus. Kaum ‘Aad seperti yang sudah dikatakan, mereka memiliki berhala yang dipuja dan diyakini dapat mendatangkan segala apapun yang mereka inginkan.

Nabi Hud meminta kaum ‘Aad untuk bertaubat kepada Allah SWT. Bersyukur hanya kepada Allah SWT. Berhala bukan Tuhan, mereka hanya patung yang tidak dapat melakukan apa pun.

“Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Sebenarnya tiada Tuhan bagi kamu selain dari padanya. Kamu hanyalah orang-orang yang mengada-adakan perkara-perkara yang palsu (terhadap Allah),” seru Nabi Hud as.

Tentu saja kaum ‘Aad tidak mudah menerima seruan dari Nabi Hud. Mereka masih enggan menerima ajaran tersebut. Kemudian Nabi Hud pun kembali berseru.

“Wahai kaumku! Mintalah ampun kepada Tuhan kamu. Kemudian kembalilah taat kepadanya, supaya menghantarkan kepada kamu hujan lebat serta menambahkan kamu kekuatan di samping kekuatan kamu yang sedia ada. Dan janganlah kamu membelakangkan seruanku dengan terus melakukan dosa!”

Karena terus mendengar seruan Nabi Hud as, Kaum ‘Aad pun menjawab:

“Wahai Hud! Engkau tidak membawa kepada kami sebarang keterangan yang membuktikan kebenaranmu dan kami tidak akan meninggalkan penyembahan Tuhan-tuhan kami dengan sebab kata-katamu itu! Kami tidak sekali-kali percaya kepadamu!”

Kemudian inilah awal dari azab Allah kepada orang-orang yang tidak taat.

Datangnya azab karena terlalu serakah pada dunia

Kaum ‘Aad yang terlalu asik menikmati dunia akhirnya mendapatkan ganjaran yang sangat berat. Ini adalah kemarahan Allah karena nikmat-Nya yang telah diberikan pada Kaum ‘Aad tidak membuatnya makin bersyukur malah semakin melampaui batas.

Akhirnya, setelah beribu-ribu kali Nabi Hud mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah dan meninggalkan berhala namun tidak membuahkan hasil, Allah murka. Allah SWt menurunkan siksanya. Allah meniupkan angin yang sangat panas. Angin tersebut bahkan dapat membakar tubuh manusia. Sangat kencang bak puting beliung namun lebih kencang. Bak angin topan, namun lebih menakutkan. Bahkan angin tersebut bertiup sangat lama, yakni 8 hari 7 malam!

Akibat angin kencang itu, Kaum ‘Aad pun binasa. Semua orang yang tidak menyembah Allah mati. Hanya orang-orang beriman dan Nabi Hud as beserta pengikutnya yang selamat. Kemudian, Nabi Hud memulai hidup baru di Hadramaut pengikutnya, orang-orang beriman.

Dari hari ke hari, bulan demi bulan, dan tahun berganti tahun, penduduk di daerah baru itu semakin banyak. Nabi Hud pun semakin tua. Ketika usianya genap 472 tahun, Nabi Hud pulang ke pangkuan Ilahi. Selesailah kewajibannya menyerukan kebaikan dan mengajak umat untuk meninggalkan kemaksiatan. Jenazahnya dikuburkan di sebelah timur Kota Hadramaut. Berjarak kurang lebih 80 km dari Kota Tarim. Sampai sekarang peziarah yang datang ke makam nabi Hud selalu ramai dari berbagai negara.

Teladan yang dapat dipetik dari kisah Nabi Hud as

Berdasarkan kisah Nabi Hud as, tentu kita tidak hanya sekadar tahu, melainkan harus mengerti apa yang bisa dipetik dari peristiwa itu.

1. Sosok Nabi Hud as yang penuh kelembutan dan kesabaran;
2. Tidak melawan seseorang yang jahat dengan kekerasan, namun justru mendoakan orang tersebut kepada Allah SWT;
3. Jangan lupa bersyukur;
4. Jangan melupakan Allah SWT saat hidup sudah membaik, kaya, makmur, dan sebagainya;
5. Kekayaan adalah titipan dan tidak sepatutnya disombongkan;
6. Mari kita bersyukur setiap hari maka Allah SWT akan menambah nikmat kita.

(merdeka)

  • Bagikan