Mengenal Karakter Anak

  • Bagikan

Oleh: Tiara Savitri

Pernahkah anda mendapati anak yang selalu ingin bergerak, tidak bisa diam dan selalu ingin mengerjakan sesuatu?. Seringkali kita beranggapan bahwa seorang anak yang berperilaku demikian sebagai anak yang lasak, bahkan menggolongkan mereka sebagai anak yang nakal. Sebenarnya apa penyebab dari perilaku mereka yang demikian? Apakah hanya sebatas aktif atau ada hal lain dibaliknya?

Menurut UNICEF, anak adalah penduduk yang berusia 0-18 tahun. Anak merupakan bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997. Sebagai aset bagi cita-cita bangsa, sudah seharusnya setiap individu terutama orang tua menaruh perhatian lebih pada anak, khususnya pada perkembangan anak.

Perkembangan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Bijou dan Baer melihat perkembangan sebagai perubahan tersistem dan berkesinambungan menuju tingkat kematangan fisik dan psikis. Dunia anak merupakan ajang untuk terus mengeksplorasi dunianya. Masa-masa dimana semua ingin dilakukan dengan bermain, mempelajari berbagai hal disekitar mereka, serta rasa ingin tahu yang cukup tinggi tentang segala hal. Hal-hal ini adalah sesuatu yang wajar pada usia anak.

Bergerak kesana-kemari, bertanya tentang banyak hal, selalu ingin mengerjakan sesuatu bahkan hal-hal yang belum dapat dilakukan oleh individu seumurannya. Tingkah laku yang tidak bisa diam ini terkadang membuat anak mendapat julukan lasak bahkan nakal. Disinilah pemahaman yang baik terhadap perkembangan anak sangat diperlukan. Karena akan sangat membantu dalam penanganan perilaku anak. Jangan sampai anak yang sebenarnya hiperaktif dianggap anak yang normal sehingga penanganan terhadap perilaku anak justru salah dan tidak tepat sasaran.

Orang tua yang dianggap sebagai agen sentral bagi perkembangan anak harus paham betul terhadap perilaku yang ditunjukan anak. Ketika keaktifan membuat anak jadi sulit untuk dikendalikan bahkan mendorong anak menjadi agresif, disinilah orang tua perlu mewaspadai adanya gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) pada anak, atau yang lebih dikenal dengan perilaku hiperaktif. John W. Santrock dalam bukunya Life-Span Development (2011), menjelaskan bahwa ADHD adalah sebuah gangguan dimana anak secara konsisten memperlihatkan karakteristik kurang perhatian, hiperaktif, dan implusif.

Karakteristik anak yang mengalami gangguan hiperaktif biasanya tidak bisa duduk diam dimanapun ia berada, tangan bergerak dengan gelisah, suka berlari-larian atau memanjat sesuatu, mengalami kesulitan dalam bermain atau dalam kegiatan yang memerlukan ketenangan, mengalami kesulitan dalam menunggu giliran menjawab sebelum pertanyaan selesai/ sering menginterupsi orang lain (Wiguna, 2007:5). Perilaku lain yang sering ditunjukan oleh anak hiperaktif adalah sulit memusatkan perhatian terhadap suatu hal, perilakunya agresif dan sulit untuk mengontrol diri.
Dengan mengenali permasalahan mengenai perkembangan anak atau gejala yang memungkinkan terjadinya gangguan pada anak seperti gejala hiperaktif, diharapkan orang tua sebagai fasilitator perkembangan anak mampu memberikan penanganan yang tepat dan sesuai. sehingga anak dapat berkembang sebagaimana mestinya.

Penulis merupakan mahasiswi asal Abdya yang berkuliah di jurusan Psikologi Universitas Syiah Kuala

  • Bagikan