Remaja Aceh Pasca Tsunami

  • Bagikan

Oleh: Mardanisa

Gempa tsunami di daerah Aceh pada hari minggu, tanggal 26 Desember 2004 adalah gempa dengan kekuatan 8,9 skala richter. Kekuatan tsunami telah memporakporandakan aset fisik, psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Aceh.

Tsunami mengharuskan masyarakat Aceh menata sendi-sendi kehidupannya kembali. Kondisi tersebut mengundang simpati dari banyak pihak individu, organisasi, instansi dari dalam dan luar negeri termasuk pemerintah melakukan penanganan yang serius. Salah satunya adalah penetapan tanggal 26 Maret 2005 sebagai “tenggat tanggap darurat” oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Tenggat tanggap darurat ditujukan untuk pembangunan kamp-kamp pengungsian ke tempat yang lebih baik, pembangunan rumah untuk rakyat Aceh, pencegahan penyebaran penyakit dan pembangunan infrastruktur vital. Pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk mengembalikan Aceh dan lebih mengembangkan Aceh. Selain pembangunan secara fisik yang terus menerus dilakukan, maka pembangunan non fisik seperti perkembangan psikologis harus juga menjadi perhatian agar masyarakat Aceh dapat mencapai keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan psikologis. Salah satu pembangunan psikologis yang penting adalah pembangunan pola pembelajaran.

Perubahan perilaku yang terkait dengan pembelajaran bagi anak dan remaja menjadi salah satu indikator bahwa anak dan remaja Aceh menghadapi permasalahan pada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Bagi remaja, proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang signifikan untuk pembentukan identitas diri remaja. Perilaku menyimpang atau adanya kenaikan angka kenakalan remaja dapat dipicu oleh kegagalan remaja dalam sekolah. Perilaku menyimpang dan kenakalan remaja sebenarnya berdasar pada ketidak mampuan remaja untuk menemukan identitas dirinya. Salah satu identitas diri remaja adalah identitas sebagai seorang pelajar yaitu menjadi siswa sekolah. Remaja yang tidak bersekolah merasa telah gagal menemukan identitas dirinya sebagai seorang pelajar yang baik. Rasa kegagalan penemuan identitas diri inilah yang sebenarnya mendasari mengapa kegagalan sekolah menjadi pemicu bagi remaja untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan perilaku.(Hartini, 2011)

Adapun tugas-tugas perkembangan Remaja (Hurlock 1994) adalah: Pertama, perkembangan aspek-aspek biologis. Individu remaja sudah harus menyelesaikan perkembangan pubertas fisiknya beserta dengan semua faktor fisiologis yang menyertai perkembangan pubertasnya. Perkembangan aspek biologis dari masing-masing individu remaja tidaklah sama, oleh karena itu peran lingkungan sosial cukup signifikan untuk membangun keyakinan diri remaja. Kedua, remaja menerima peranan orang dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat. Remaja yang sudah mencapai penyelesaian perkembangan aspek biologisnya menginginkan untuk dapat berperan sebagaimana orang-orang dewasa di lingkungannya Kebiasaan masyarakat sekitar dalam memberikan peran kepada remaja merupakan suatu faktor terpenting bagi remaja dalam pengambilan keputusan tentang peranannya di lingkungan masyarakatnya.

Ketiga, remaja mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua maupun orang lain. Tahapan perkembangan mendapatkan kebebasan emosional menurut Ginzberg (dalam Monks 1999) ada beberapa periode: a) periode fantasi pada remaja awal, mereka senang melamun dan berkhayal tentang apapun yang terjadi, baik yang terjadi pada dirinya sendiri maupun hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan menurut perkembangan moral Kohlberg (dalam Monks 1999), remaja pada tahap perkembangan ini masih mau diatur oleh hukum-hukum/aturan-aturan di lingkungannya; b) periode tentatif pada remaja tengah, pada tahap ini remaja masih ragu-ragu dan selalu ingin bertanya tentang nilai-nilai kecakapan dirinya dengan nilai-nilai kecakapan lingkungannya. c) periode realistis pada remaja akhir, pada tahapan ini remaja sudah mampu berfikir dan bertindak realistis. Keempat, mendapatkan pandangan hidup sendiri. Pada masa remaja sebenarnya seorang individu harus mampu menerima kejadian, kebenaran, dan nilai-nilai dalam satu sudut pandangan tertentu yang mencakup segala aspek kehidupannya (stadium perkembangan ketuhanannya telah tercapai).

Tsunami memberikan dampak perubahan sosial yang besar pada masyarakat Aceh termasuk kehidupan remaja Aceh. Perubahan lingkungan memberikan pengaruh pada perubahan perilaku individu. Pasca tsunami, pembangunan kembali fisik dan infrastruktur yang rusak adalah fenomena yang paling menonjol di Aceh. Pembangunan tersebut telah membuka dan memberikan lapangan pekerjaan di sektor nonformal kepada masyarakat. Banyaknya lapangan pekerjaan nonformal tersebut juga memberikan peluang kepada remaja untuk segera bekerja dan mendapatkan gaji/upah. Apalagi, dari beberapa sumber yang dipercaya, gaji/upah pekerja di Aceh pasca tsunami mengalami kenaikan atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan gaji/upah di daerah lain. Akibatnya, bekerja menjadi stimulus yang lebih menarik bagi remaja dari pada bersekolah. Jadi, terbukanya lapangan pekerjaan bagi remaja Aceh tersebut menjadi salah satu faktor penurunan angka keberlanjutan pendidikan di Aceh terutama di tingkat Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Sementara, orang tua memberikan dukungan kepada remaja untuk bekerja menjadi buruh bangunan dengan upah tinggi. Orang tua dan masyarakat memberikan penguatan positif pada remaja yang bekerja karena remaja yang bekerja mampu memenuhi kebutuhan remaja sendiri dan dapat membantu menopang kebutuhan keluarga.

“Hartini (2011) mengungkapkan bahwa Kemudahan mendapatkan pekerjaan di sektor nonformal membuat remaja Aceh menunjukkan perubahan perilaku lain yaitu perilaku konsumtif. Contoh perilaku konsumtif yang mudah kita amati adalah kepemilikan handphone bermerek dan kepemilikan sepeda motor. Perilaku konsumtif tersebut mudah menyebar atau mudah tertransfer kepada remaja lain karena remaja Aceh memiliki kebiasaan berkumpul di depan meunasah/dayah pada sore hari. Kebiasaan berkumpul di meunasah/dayah sore hari yang kemudian disatukan dengan aksesoris handphone bermerek dan sepeda motor, dikhawatirkan akan memberikan pengaruh yang kurang positif kepada remaja Aceh yang tidak bisa mengikuti perilaku konsumtif dikarenakan memilih bersekolah dan tidak bekerja”.

Sebenarnya masyarakat Aceh harus menjadi penguat positif agar remaja tetap selektif dan positif dalam menyikapi beragam perubahan sosial yang ada. Remaja Aceh harus mampu menempatkan sekolah sebagai tugas perkembangan utama dan harus tetap belajar menyelaraskan perkembangan sosialnya dengan berdasarkan pada kebiasaan dan tradisi masyarakat Aceh yang identik dengan budaya islam sebagai kota ‘Serambi Mekkah’.

Penulis Merupakan mahasiswi Psikologi fakultas kedokteran Universitas Syiah Kuala.

  • Bagikan