banner 728x250

Pelayanan PDAM Masih Jauh Dari Optimal, Ini Harapan Warga Pada Wali Kota

  • Bagikan
Reservoir PDAM Tirta Daroy yang terbengkalai di kawasan Meuraxa. Foto Ist.

NBA – Pelayanan PDAM yang masih jauh dari optimal menimbulkan keluhan-keluhan di masyarakat terhadap pendistribusian air bersih yang masih tidak konsisten di kawasan mereka. Hal ini diungkapkan oleh Mukhsin pada NBA di salah satu warung kopi di Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa Banda Aceh, Senin (22/1).

“Air bersih ini merupakan salah satu kebutuhan pokok, oleh sebab itu perlu dipikirkan bagaimana kami disini bisa mengakses air seperti saudara-saudara kami di gampong lain dengan lancar. Manajemen PDAM jangan cuma pencitraan sana sini, kami masyarakat masih kecewa dengan pelayanan PDAM yang jauh dari konsisten,” ujar Mukhsin.

Mukhsin juga menyampaikan, menurutnya bahwa walaupun PDAM sekarang terlihat sudah lebih baik dari tahun sebelumnya itu adalah buah dari dorongan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman bukan andil dari pemimpin PDAM yang sekarang.

“Wali Kota baru jelas membawa perubahan dan itu sudah dirasakan masyarakat dari gebrakan yang beliau lakukan selama memimpin Banda Aceh, saya pikir kebijakan beliau dapat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Namun sangat sayang dalam pandangan saya hal ini tidak di tindaklanjuti oleh PDAM dengan baik. Kami di Meuraxa belum konsisten menerima pelayanan, hari ini hidup besoknya mati, kalaupun hidup di pukul 2 malam,” keluhnya.

Lanjutnya, saya baca di koran Dirut mengatakan akan membangun penampung air yang baru seharga 20 miliar, sedangkan sudah ada penampung di Ulee Lheue yang sampai sekarang dibiarkan berkarat saja tanpa digunakan, ini kan tanda manajemen yang tidak berfungsi,” ujar nya serius.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Putri warga Penyeurat, ia mengatakan bahwa dirinya juga pernah dikecewakan oleh manajemen PDAM Tirta Daroy.

“Air di rumah saya baru-baru saja lancar, setelah hampir 3 tahun tidak ada air. Yang lucunya ketika air mulai lancar saya pernah di datangi petugas yang tanpa pemberitahuan sebelumnya langsung mencabut meteran karena saya di katakan menunggak tanpa pernah diberikan surat peringatan apapun, apalagi selama 3 tahun kebelakang kami tidak dapat menikmati air bersih. Walaupun saya akhirnya membayar beban tersebut, tapi masih terdapat ganjalan di hati, masa iya saya harus membayar beban dari sesuatu yang tidak saya nikmati,” ungkapnya.

“Saya berharap Pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh dapat memperbaiki manajemen di tempat-tempat yang berhubungan dengan layanan publik, khususnya di PDAM,” harapnya. (Red)

  • Bagikan