Meneropong ZIS Sebagai Pengusut Tuntas Kemiskinan Aceh

Oleh : Rahmat Lidayani

Isu kemiskinan dan pengangguran yang ada di Aceh menjadi titik koordinat PR pemerintah Aceh dalam menuntaskan dan menekan angka kemiskinan yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Rentetan masalah ini yang terus menjadi perhatian mahasiswa sekaligus masyarakat dan pemerintahan dalam mengusut tuntas terhadap kemiskinan yang ada di Aceh.

Ragam cara dan strategi yang diluncurkan baik berupa solusi serta argumen untuk membantu pemerintahan dalam menekan angka kemiskinan yang terus mengalami peningkatan walaupun tipis di setiap tahunnya.

Namun dengan momentum ini,
sebenarnya penting adanya kesadaran oleh publik akan peran dan kontribusi Zakat, Infaq dan Shadaqah dalam mendorong serta memberi strategi dan solusi dalam pengusutasan kasus kemiskinan yang ada di Aceh.

Islam memandang bahwa kemiskinan sepenuhnya adalah masalah yang structural karena dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah telah menjamin rizki setiap makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakan Nya (QS 30:40; QS 11:6) dan pada saat yang bersamaan Islam telah menutup peluang bagi kemiskinan kurtural dengan memberi kewajiban mencari nafkah bagi setiap individu ( QS 67:15 ).

Hal ini yang menjadi landasan
kuat bagi setiap individu untuk dapat mencari setiap rizki yang telah Allah berikan melalui berbagai cara yang dikehendaki oleh Nya. Dalam perspektif Islam, Kemiskinan dapat hadir dikarenakan berbagai aspek yang ada. Dalam Al-Quran dikatakan kemiskinan dapat muncul salah satunya karena ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya (QS. 3:180 , QS 70:18) sehingga orang yang miskin tidak dapat keluar dari zona kemiskinan.

Ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya ini adalah salah satu akar masalah dalam munculnya kemiskinan di Aceh. Mengapa tidak, Aceh dalam perolehan PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto ) dalam capaian yang tergolong tinggi, namun Aceh juga tinggi akan angka kemiskinannya. Ini merupakan permasalahan yang ada dan belum tertuntaskan dan menjadi perhatian oleh publik.

Dalam rentetan masala yang ada ini, zakat, Infaq dan Shadaqah adalah salah satu bagian dari instrumen ekonomi Islam yang mampu mengurangi angka kemiskinan yang ada di Aceh. Dengan Zakat, Infaq dan Shadaqah maka semakin banyak yang mencapai nishab sehingga akan semakin tinggi kemampuan membayar zakat dan memberikan Infaq dan Shadaqah yang akan di distribusikan kepada pihak yang berhak menerimanya (Mustahik).

Logika sederhana ini yang diutarakan bahwa sebenarnya semakin tinggi PDRB Aceh justru tingkat atau total penerimaan zakat, Infaq dan Shadaqah semakin tinggi pula. Apakah permasalah selama ini sehingga PDRB Aceh tinggi namun penerimaan zakat, Infaq dan Shadaqah belum dikategorikan tinggi pula. Secara sederhana ini disebabkan oleh kesadaran kaum kaya dalam memberi Zakat, Infaq dan Shadaqah masing sangat rendah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS Provinsi Aceh yaitu pergeseran angka ketimpangan (Gini Rasio) dari tahun 2007 (0.27%) hingga tahun 2015 (0.33%) menunjukkan bahwa ketimpangan mengalami peningkatan yang tergolong tinggi.

Ini merupakan masalah dalam pengusutan tuntas kesenjangan
ekonomi yang ada di Aceh. Berdasarkan data ini Aceh dapat bercermin untuk terus dapat membenahi dan serius dalam menuntaskan kemiskinan ini dengan menggunakan instrument zakat, Infaq dan Shadaqah sebagai solusi kreatif untuk cara yang akan di tempuh.

Berdasarkan kutipan dari opini Sayed Muhammad Husen ( Website resmi Baitul Mal Provinsi Aceh ), dari potensi Zakat Aceh Rp 1.4 Triliun, Baitul Mal telah menghimpun hampir Rp 300 Miliar dalam setahun.

Angka ini masih dapat bertambah dengan pengelola Zakat yang belum terdata dan dibayar masing – masing muzakki. Berdasarkan opini ini kita dapat memerhatikan bagaimana harapan Zakat, Infaq dan Shadaqah dapat menjawab dan mengusut tuntas kemiskinan yang ada di Aceh yang selama ini yang menjadi PR pemerintah Aceh.

Dengan Mengetahui bagaimana kontribusi Zakat, Infaq dan Shadaqah dalam menjawab masalah kemiskinan yang ada di Aceh, saya berharap kita dapat mulai berfikir secara luas dan progresif sehingga Zakat, Infaq dan Shadaqah yang kita berikan memperoleh dampak bagi perubahan status dari mustahik menjadi muzakki.

Sehingga kaum kaya ( Surplus ) dapat memberikan Zakat, Infaq dan Shadaqahnya kepada lembaga Baitul Mal untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Kemudian Zakat, Infaq
Shadaqah lambat laun akan dapat mengusut tuntas kasus kemiskinan yang melanda Aceh sehingga Aceh akan terus maju dan terwujudkannya pemerataan kekayaan bagi umat.

Penulis merupakan Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry, yang juga Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry

x

Check Also

Wali Kota Harap RSU Meuraxa Sudah Bersertifikasi Syariah Sebelum Tahun 2019

NBA – Wali Kota Banda Aceh, H. Aminullah Usman, SE. Ak, MM berharap Rumah Sakit ...