Ketua Umum Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang (MPG) Kota Banda Aceh, Ustad Jumaris, S.Ag

MPG: Zikir Gemilang Akan Digelar Atas Desakan Warga dan Menerapkan Prokes

“Apa yang salah dengan Zikir Gemilang Pak Humam”

Banda Aceh – Sepanjang sejarah Pemerintah Kota Banda Aceh, baru masa Pemerintahan Wali Kota H. Aminullah Usman,  SE. Ak, MM dan Wakil Wali Kota Drs. H. Zainal Arifin yang menjadikan Pendopo Wali Kota sebagai lokasi tempat pelaksanaan Zikir dan Pengajian rutin setiap minggunya.

Ribuan warga tumpah ruah setiap kegiatan tersebut digelar di setiap hari Jumat malam. Namun, sejak Pandemi Covid-19 merebak, kegiatan Zikir dan Pengajian dihentikan untuk sementara.

Akan tetapi desakan dari warga kota selalu hadir yang berharap kegiatan tersebut dapat digelar kembali, walaupun dengan menerapkan Protokol Kesehatan.

Hal tersebut diterangkan Ketua Umum Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang (MPG) Banda Aceh, Ustad Jumaris, S.Ag pada NBA, Selasa 15 September 2020.

“Atas dasar menanggapi desakan permintaan warga tersebut, oleh karena itulah MPG Banda Aceh akan kembali menggelar kegiatan tersebut yang tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang sangat ketat.” Ungkapnya.

Ia menjelaskan, seperti hanya akan dihadiri oleh Pimpinan-pimpinan Dayah dan beberapa jamaah MPG. Namun, untuk warga kota tetap bisa mengikuti kegiatan zikir dirumah masing-masing dengan cara yang sedang kita persiapan saat ini.

“Tentunya hal tersebut adalah sebagai syiar Zikir agar selalu tetap bergemuruh di Kota Banda Aceh, dalam rangka upaya dan salah satu ikhtiar kita juga kepada Allah SWT, agar Pandemi ini segera berakhir, sebagaimana yang diharapkan oleh setiap insan saat ini” ujar Ustad Jumaris.

Ia menambahkan, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Wali Kota Banda Aceh, agar segera dapat membuat metode dan teknis pelaksanaan kegiatan Zikir dan doa bersama di masa pandemi corona ini dengan tidak melanggar Protokol Kesehatan.

“Sesuai dengan yang telah diminta oleh Pak Wali, maka kita akan coba buat persiapan dan metode pelaksanaannya, seperti hanya di hadiri oleh Jamaah terbatas, yaitu pimpinan Zikir, penceramah, dan beberapa pimpinan dayah serta beberapa jamaah lainnya yang akan kita gilir. Selain itu juga duduknya berjarak satu meter depan, belakang, kiri dan kanan, lalu durasi waktu yang singkat, tidak salam-salaman lalu begitu selesai langsung membubarkan diri,” terang Ustad Jumaris.

Terkait adanya pernyataan dari Ahmad Humam Hamid di salah satu media online, yang menyebutkan Zikir Gemilang akan menjadi ajang untuk membuat warga dibiarkan dalam kehidupan nafsi-nafsi di era pandemi ini, Ustad Jumaris menyayangkan hal tersebut, karena beliau tidak paham dan belum milihat apa dan bagaimana yang akan dibuat nantinya.

“Ada apa dengan Zikir Gemilang Pak Humam, sehingga begitu menyorot rencana kegiatan tersebut digelar kembali, padahal itu hanya baru sebatas rencana yang sedang di minta untuk dapat dipersiapkan bentuk serta teknisnya. Namun, begitu menarik bagi beliau untuk mengatakan bahwa ini ajang yang akan memperparah corona, Apa yang salah dengan zikir gemilang, padahal belum lagi di laksanakan,” tanya Ustad Jumaris.

Ustad Jumaris pun menegaskan, kegiatan Zikir Gemilang yang selama ini rutin digelar sebelum masa Pandemi Covid-19 hanyalah untuk ibadah semata-mata, bukan ada agenda lainnya.

“Dari awal terbentuknya Majelis Pengajian Zikir Gemilang, kami tidak pernah berniat menggiring Zikir kepada hal lain, selain sebagai sarana ibadah dan silaturrahmi antara warga Kota Banda Aceh dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota, jadi saya pastikan tidak ada hal – hal yang lain, apalagi hal-hal bernuansa politik,” Ungkapnya.

Ustad Jumaris mengatakan, dalam salah satu media online yang ia baca,  Humam Hamid menuliskan

“Publik tahu “Zikir Gemilang” adalah made in Walikota Banda Aceh dan tengah berevolusi untuk menjadi “Zikir Gemilang Aceh” ketika saatnya tiba. Anggap saja itu niat baik, tetapi niat baik yang tidak diimbangi dengan “tahu baik” belum cukup untuk kemaslahatan publik. ” Tulis Humam Hamid.

Ustad Jumaris berharap Humam Hamid tak hanya asal menulis opini, tapi ada baiknya juga dapat bertanya terlebih dahulu apa dan bagimana yang hendak dilakukan, sebelum kita lempar ke publik yang dapat menimbulkan fitnah dan salah dalam pemahaman.

Dan mengenai penanggulangan serta pencegahan penyebaran Covid-19 di Kota Banda Aceh, juga sudah sangat banyak yang dilakukan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota, sebagaimana yang juga telah diketahui oleh warga kota.

“Sebagai salah seorang tokoh, apa yang sudah dilakukan oleh Humam Hamid dalam penanggulangan Covid-19 di Aceh. Selain itu kenapa hanya Zikir Gemilang yang disorot, bukankah Shalat berjamaah, pesta dan lainnya juga tidak dilarang di Aceh,” kata Ustad Jumaris.

Ustad Jumaris juga berharap kepada siapapun yang memberikan masukan dan saran, silahkan dengan baik serta tidak terkesan memprovokasi dan mengarah kepada hal – hal yang di luar konteks, misalnya tidak mengarah kepada hal – hal yang bernuansa politis dan sebagainya.

“Ada baiknya saat ini kita bersinergi melawan pandemi Covid-19, baik dengan protokol kesehatan dan tentunya senjata kita orang mukmin adalah zikir dan doa, lihat saja hari ini beberapa warung kopi sudah dirazia, Perwal 51 Tahun 2020 adalah bukti keseriusan Wali Kota bersama Forkopimda untuk menjaga kesehatan warga kota dari pandemi Covid-19,” pungkas Ustad Jumaris.

Sementara itu, salah seorang Dewan Pembimbing MPG, Tgk. Umar Rafsanjani, Lc, MA menyatakan bahwa berzikir itu adalah usaha kita untuk jauh dari bala Allah SWT.

“Rencana Kegiatan Zikir Gemilang oleh MPG atas anjuran Wali Kota adalah termasuk upaya dan ikhtiar tepat untuk menghadapi pandemi covid 19 yang sedang melanda bangsa ini, dengan berzikir dan bermunajat doa kepada Allah SWT,  tentunya tetap dalam keadaan menjaga protokol kesehatan, maka kita sudah tergolong ke dalam golongan hamba Allah yang taat,  disiplin dan bertawakal, serta memang beginilah yang diperintah oleh Allah SWT.

“Perlu dipertanyakan juga jika ada orang atau oknum yang tidak setuju dan bahkan menyalahkan kegiatan zikir, apalagi dibuat untuk berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari bala, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dan jamaah terbatas serta di buat bergilir pada kesempatan berikutnya, serta yang lebih mengherankan kenapa cuma Zikir saja yang disangsikan,  sementara keramaian lainnya yang lebih berpotensi untuk penularan Covid 19 tidak menjadi bahan sorotan, padahal inilah yang perlu kita lakukan, tinggal metode pelaksanaan yang kita buat dengan baik dan benar, semoga Allah menjuhkan kita dari segala bala,” ujar Ustad Umar.

Ustad Umar melanjutkan, “kami menjadi aneh dengan tulisan Pak Humam, makanya kami bertanya ada apa dengan Zikir Gemilang Pak Humam,” cetus Ustad Umar. (Red)

x

Check Also

Aminullah Wacanakan Alue Naga Jadi Destinasi Wisata Kuliner Modern

Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mewacanakan gampong Alue Naga, ...