Dampak Nyata Resesi Global Bagi Indonesia Akan Cukup Besar

Avatar

Jakarta – Dampak resesi global bagi Indonesia akan cukup besar. Misalnya, pasar ekspor akan turun dan bisa menyebabkan PHK besar-besaran.

Hal tersebut diungkapkan Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Ronny P. Sasmita dilansir dari Liputan6.com.

“Soal risiko (resesi global) saya kira cukup besar ya. Pasar ekspor yang turun dan tidak tergantikan akan berujung pada PHK besar-besaran. Ini risiko terpahit,” kata Ronny, Sabtu (18/2/2023).

Selain itu, dampak tersebut juga akan menyebabkan tekanan deflasi kepada perekonomian secara keseluruhan. Di satu sisi dan akan menetralisir upaya pemerintah dalam meningkatkan investasi dan lapangan pekerjaan

Lebih lanjut, menurutnya dengan pertumbuhan ekonomi China yang hanya 3 persen dan Amerika 2,1 persen di tahun 2022, tentu tekanan terhadap ekspor nasional akan mulai terasa di tahun ini.

Selain kedua negara itu, Eropa dan Jepang pun tidak menunjukan tanda-tanda membaik. Hanya India yang berhasil tumbuh tinggi, selain Indonesia.

“Artinya, Para importir akan berhitung ulang atas volume impor yang akan mereka datangkan dari Indonesia,” ujarnya.

Nasib Ekspor

Lantas bagaimana nasib ekspor, apakah masih bisa menguat? Ronny menilai, ekspor Indonesia sangat bergantung kepada kondisi global di satu sisi dan strategi dagang Indonesia di sisi lain.

Melihat performa ekonomi negara-negara besar, maka Indonesia harus mulai memiikirkan tentang bagaimana untuk mengakselerasi diversifikasi tujuan ekspor, terutama ke kawasan-kawasan yang masih potensial seperti Timur Tengah, India, Eurosia, dan intensifikasi dagang dengan negara-negara Asean.

Sementara soal potensi pelemahan investasi tentu ada. Namun, selama pemerintah mampu menjaga trend dan stabilitas pertumbuhan 5 persen ke atas dan menjaga stabilitas moneter.

“(Tapi Pemerintah harus) sembari tetap fokus menjaga daya beli, saya kira Indonesia akan bisa menjadi destinasi yang potensial untuk para investor,” pungkasnya.

Resesi Global Mulai Terasa di Indonesia, Ini Tanda-Tandanya

Sebelumnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan kekhawatirannya terkait dampak resesi global yang sudah mulai terasa bagi Indonesia.

Meskipun ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2022 berhasil tumbuh 5,31 persen, namun kinerja ekspor yang menjadi penyokong ekonomi tahun lalu mulai melemah. 

Bahkan Bahlil menyebut kinerja ekspor kuartal pertama tahun ini mengalami pelemahan jika dibandingkan dengan kinerja pada kuartal IV tahun 2022. 

“Ekspor kita di kuartal I-2023 ini rada-rada, tidak sebaik di kuartal IV-2022. Ini tanda-tanda sudah mulai menurun,” ungkap Bahlil dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis (16/2/2023). 

Selain kinerja ekspor, Bahlil juga mengkhawatirkan terganggunya investasi yang masuk di tahun 2023. Apalagi targetnya naik menjadi Rp1.400 triliun. Masuknya investasi asing ke Indonesia di kuartal perdana ini juga tidak lebih baik dari capaian di kuartal IV-2022. 

“Saya baru cek, di kuartal I ini agak tidak sebaik dengan kuartal IV-2022 dan beberapa negara sudah menanyakan investasi di negara kita, dan ini  masih butuh pergerakan-pergerakan maintenance yang baik,” ungkapnya. 

Bahlil  menyimpulkan, tahun 2023 menjadi tahun yang sulit selain bertepatan dengan tahun politik. Sebagaimana historisnya, ketika sebuah negara memasuki tahun politik, para investor memilih untuk menahan diri (wait and see) dalam berinvestasi. 

“Kita di tahun 2023 menurut saya ini tahun yang tidak main-main,” katanya.

Kondisi Ekonomi Global

Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang diperkirakan masih gelap sepanjang tahun. Potensi resesi global sudah tidak bisa dihindari lagi. Bahlil bilang sekarang negara sedang menghitung dalamnya dampak resesi di Tanah Air. 

“Potensi resesi tidak dapat kita hindari dan dalamnya resesi sedang kita hitung,” kata dia. 

Pemerintah, kata Bahlil sedang berupaya agar dampak resesi ini berakibat pada sikap investor yang makin menahan dananya untuk diinvestasikan.

Untuk itu dia meminta semua pihak tidak mempermasalahkan hal-hal sepele yang bisa berdampak pada kepercayaan para investor. 

“Jangan sampai ini berdampak pada sikap wait and see di tahun politik. Jangan yang tidak substantif ini menjadi masalah besar,” pungkasnya.

Negara Ekonomi Terbesar Eropa Terkontraksi, Sinyal Resesi di Depan Mata?

Negara ekonomi terbesar di Eropa, Jerman secara tak terduga mengalami penyusutan ekonomi pada kuartal keempat 2022.  Jerman merupakan negara ekonomi terbesar di Eropa.

Kontraksi ini semakin menunjukkan kemungkinan bahwa negara itu sudah memasuki resesi seperti yang sebelumnya diprediksi, meskipun kemungkinan terburuk sudah mereda dibandingkan yang dikhawatirkan sebelumnya.

Mengutip US News, Selasa (31/1/2023) data resmi kantor statistik federal Jerman menunjukkan bahwa produk domestik bruto (PDB) negara itu turun 0,2 persen pada kuartal IV 2022.

Padahal, di kuartal sebelumnya, ekonomi Jerman sempat tumbuh sebesar 0,5 persen yang direvisi naik dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Sebagai informasim eesesi secara umum didefinisikan sebagai kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.

“Bulan-bulan musim dingin berubah menjadi sulit – meskipun tidak sesulit yang diperkirakan sebelumnya,” kata kepala ekonom VP Bank, Thomas Gitzel.

“Kehancuran ekonomi Jerman yang parah tidak ada, tetapi sedikit resesi masih akan terjadi,” sebutnya.

Pekan lalu, Menteri Perekonomian Jerman Robert Habeck mengatakan dalam laporan ekonomi tahunan pemerintah bahwa krisis ekonomi yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina sekarang dapat ditangani, meskipun harga energi yang tinggi dan kenaikan suku bunga membuat pemerintah tetap berhati-hati.

Situasi ekonomi Jerman diprediksi akan membaik mulai musim semi dan seterusnya, dan perkiraan PDB Jerman untuk tahun 2023 ini juga direvisi menjadi 0,2 persen, naik dari perkiraan penurunan 0,4 persen.

Sementara itu, European Central Bank (EBC) atau bank sentral Eropa telah berkomitmen untuk menaikkan suku bunga utamanya setengah poin persentase pekan ini menjadi 2,5 persen untuk mengekang inflasi di kawasannya. (liputan6)