Aminullah Sukses Produktifkan Aset Tidur Banda Aceh

  • Bagikan

Berdampak Pada Pertumbuhan Perekonomian Kota

Banda Aceh – Selama memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Ibukota Provinsi Aceh sedari 2017 silam, Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman SE.Ak MM sukses memproduktifkan aset-aset tidur di sejumlah lokasi strategis.

Mulai dari bangunan terbengkalai hingga lahan lama tak terpakai, mampu disulap mantan Dirut Bank Aceh ini menjadi berdaya guna bagi masyarakat. Hal tersebut pun berdampak pada peningkatan perekonomian kota dan warganya.

Sebut saja bangunan Pasar Aceh baru yang mangkrak tak digunakan bertahun-tahun usai diresmikan. Mirisnya lagi, pemerintah kota masih harus membayar angsuran pinjaman pembangunannya hingga miliaran rupiah sampai dengan sekarang.

Namun lewat tangan dingin Aminullah, di lantai tiga pasar terbesar di Aceh itu kini hadir Mal Pelayanan Publik (MPP) terbesar pula dan terlengkap se-Sumatra. Di sana, masyarakat bisa mengakses beragam layanan perizinan dan non perizinan dengan mudah, pada satu tempat.

Saat ini, MPP Banda Aceh menyediakan lebih dari 100 layanan, mulai dari peirizian usaha, keimigrasian, kependudukan, hingga perpajakan. Tak kurang dari 31 kantor, instansi, dan lembaga yang sudah membuka outlet di sana.

“Alhamdulillah Pasar Aceh berhasil kita produktifkan dengan menghadirkan mal pelayanan publik yang modern dan representatif. Setelah itu, pasar menjadi penuh terisi semua, termasuk Suzuya Swalayan, dan ramai dikunjungi pembeli,” ujar Aminullah, Kamis 9 Juni 2022.

Aset tidur lainnya, yakni lahan yang sudah lama terlantar di kawasan pantai Ulee Lheue. Di lokasi itu kini telah dibangun Ulee Lheue Park -pusat rekreasi keluarga- yang saban hari ramai dikunjungi warga . “Ulee Lheue Park menambah pesona wisata pantai Samudra Hindia,” ujarnya lagi.

Berlanjut ke tengah kota, Krueng Daroy yang konon dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, menjelma menjadi destinasi wisata baru. Bantaran sungai yang membelah Kutaraja itu dulunya kawasan kumuh. “Lewat program Kotaku, kita membangun area river walk di kedua sisi sungai, plus taman sebagai tempat rehat atau bersantai. ”

“Sekarang bantaran Krueng Daroy menjadi ruang terbuka hijau tempat warga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Bahkan menjadi salah satu spot foto selfie favorit wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh,” kata Aminullah.

Pembangunan berkonsep water front city pun dikembangkan Best Visionary Leader 2019 tersebut di sepanjang Krueng Aceh. Selain river walk, pusat kuliner tepian sungai penuh sejarah itu pun menjadi primadona baru. “Teranyar dengan hadirnya Warkop Solong JP yang semakin membuat produktif kawasan Keudah dan sekitarnya.”

Tak jauh dari situ, masih di Gampong Keudah, Aminullah menghadirkan sebuah perpustakaan kota bertaraf nasional. “Dulunya di situ tanah kosong, tapi telah kita dirikan gedung pustaka representatif yang diharapkan dapat menumbuh-kembangkan budaya literasi masyarakat, sekaligus menjadi destinasi wisata alternatif,” ujarnya.

Bergeser ke arah Lamdingin, telah hadir Al Mahirah yang megah -pasar tradisional terpadu dan terbesar di Aceh. “Dari awal hanya satu bangunan yang belum difungsikan, relokasi Pasar Peunayong itu kini telah memiliki enam bangunan utama untuk masing-masing jenis pasar yang berbeda,” ujarnya.

“Di samping telah tersedia pasar ikan, daging, unggas, sayur-buah, bumbu, lengkap dengan musala, kita juga sedang membangun sebuah rumah kreatif untuk menampung dan memasarkan produk-produk unggulan Banda Aceh. Kawasan pesisir kota pun semakin hidup dengan adanya Pasar Al-Mahirah,” ujarnya lagi.

Kembali ke pusat kota, pertokoan aset pemko di kawasan Simpang Lima yang ‘nganggur’ tak luput dari perhatian Aminullah. Ia memanfaatkannya sebagai kantor pusat Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Mahirah Muamalah. “Dengan semakin majunya Mahirah Muamalah yang sudah dipercayai ribuan nasabah, tempat itu pun kini kembali produktif.”

Tak berlebihan bila disebut upaya Aminullah menghidupkan aset-aset tidur tersebut telah berkontribusi signifikan dalam meningkatkan perekonomian kota usai diterpa badai Covid-19. “Setelah sempat minus tiga persen terimbas pandemi, ekonomi Banda Aceh kembali tumbuh 5,53 persen pada 2021.”

“Salah satu faktor pendukung bangkitnya ekonomi Banda Aceh, yaitu produktifnya kembali aset-aset kota kita yang telah lama ‘tertidur’,”demikian Aminullah Usman. (*)

  • Bagikan